NLP (Neuro Linguistik Program)
NLP di Komunikasi Produktif
Oleh : Raisa Dea Pitrasari
Oke...
Sebelum
membahas tentang NLP di Komunikasi Produktif, kita cari tahu dulu apa itu NLP.
NLP => Keingintahuan, panduan
pemikiran, pembelajaran hakikat pengalaman dan perangkat lunak otak (carol
Harris)
Neuro => Mengacu ke system
syaraf kita, corong penghubung lima indra kita (Melihat, mendengar, merasa dan
mencium)
Linguistik => Kemampuan alami
berkomunikasi secara verbal (Pilihan kata dan frase) dan non verbal (Bahasa sunyi, postur, gerak
dan tingkah laku)
Program => Mengacu pada pola
berpikir, perasaan dan tindakan kita
NLP ( Neuro – Linguistic –
Programme ) membangun komunikasi yang Komunikatif dengan mengontrol emosi dan
persepsi yang ada. Saat kita ingin merubah oranglain, ingin mereka seperti
kita, ingin mereka menyetujui pendapat kita, ingin mereka mewujudkan harapan
kita dan ingin mereka sempurna seperti apa yang kita gambarkan. Tapi ternyata
ketika itu tidak terwujud, kita jadi di landa perasaan Negatif.
Padahal, Setiap individu punya
FOR (Frame of Referance) dan FOE (Frame OF Experience) yang berbeda. FOR (Frame
Of Reference) yang berarti Kita punya cara pandang, keyakinan, konsep dan tata
nilai yang berbeda. Ini bisa berasal dari latar belakang Pendidikan Orangtua ,
buku bacaan , pergaulan dan indoktrinasi, dan lain sebagainya. FOE (Frame Of
Expereience) yang berbeda juga yang di latar belakangi dari kejadian yang di
alamai seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.
Komunikasi dilakukan untuk
“membagikan” yang ku tahu kepada mu, dan sudut pandangku agar kau mengerti.
Demikian pula sebaliknya. Karena Komunikasi yang baik akan membentuk FOR/FOE-ku
dan FOR/FOE-mu menjadi FOR/FOE-KITA.
Komunikasi menjadi bermasalah
ketika menjadi “memaksakan” pendapatku kepadamu. Harus kau pakai sudut
pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.
Karena sebenarnya selisih paham sering kali muncul bukan karena isi
percakapan, melainkan dari cara penyampaian.
Tantangan terbesar dalam
komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri, Karena mungkin
selama ini kita tidak menyadari bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah
komunikasi yang tidak Produktif. Maka kita harus merubah diri sendiri terlebih
dahulu, berubah menjadi orang yang kita inginkan, memanfaatkan semua potensi
yang ada dalam diri kita. InshaAllah hidup kita bisa lebih berbahagia
Kosa kata yang juga kita ucapkan
adalah output dari struktur berpikir dan cara berfikir kita. Ketika kita selalu
berpikir positive, maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata
yang positive. Demikian pula sebaliknya. Karena kata-kata kita akan membawa
energy, maka pilihlah dan rubahlah kata-kata yang negative menjadi kata yang
positive. Pemilihan diksi/kosa kata juga merupakan cerminan dari diri kita,
karena pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak.
Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata agar hidup lebih berenergi dan
lebih bermakna.
“Apa yang ada diluar dan di dekat
kita merupakan hal-hal tak berarti jika dibandingkan dengan apa yang ada dalam
diri kita” (Ralph Waldo Emerson)
Ada banyak asumsi dasar dalam NLP.
- Menghormati cara oranglain membentuk dunianya. Karena kita lahir dari Orangtau yang berbeda, lingkungan berbeda, pendidikan berbeda dan pengalaman hidup yang berbeda. Maka terima itu, dan berbagi minatlah.
- Peta bukanlah wilayah. Peta adalah persepsi kita. Wilayah adalah hidup kita. Persepsi tidak sama dengan kenyataan. Ubah persepi kita maka hidup dan kenyataan kita juga akan berubah
- Selalu ada maksud baik dari tiap tingkah laku, maka kita harus berpikir positive, memisahkan penilaian prilaku dan niat seseorang. Jika tidak, kita akan terperangkap dalam Generalisasi. Yaitu memandang oranglain sama seperti kebanyak oranglain yang memandang pada orang tersebut.
- Orang-orang melakukan hal terbaik yang mereka bisa sebatas sumber-sumber yang mereka ketahui. Pengalaman hidup membantu kita membuat keputusan yang lebih baik. Seiring bertambahnya usia, kita akan memperoleh pengetahuan, pengalaman baru untuk menjadi kita lebih bijaksana dan berbahagia dalam hidup.
- Tidak ada orang yang kaku, hanya komunikator saja yang kurang flexible. Hadapi orang lain yang termasuk kategori stuck state dengan menggunakan konsep kemitraan, berhati-hati dalam menjelaskan pandangan kita. Dan selalu kroscheck pendapat dengan orang yang termasuk kategori stuck state itu
- Makna komunikasi adalah respons yang kita peroleh. Jika kita berkomunikasi dan mendapat respons yang tidak di harapkan, maka kita harus coba cara lain untuk mendapat respon yang di inginkan. Tetap focus pada tujuan utama : mendapat respon yang baik. Gunakan Kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan Produktivitas komunikasi
- Kaidah 2 C : Clear dan Clarify : Kalimat jelas, Mudah di pahami, Bahasa yang baik dan nyaman, Berikan kesempatan untuk bertanya dan klarifikasi
- Choose the right time : Waktu dan suasana nyaman, Jangan lupa tanyakan suasana nyamannya
- Kaidah 7-38-55 : 7 % perasaan dan sikap (feeling dan attitude) aspek verbal (kata-kata), 38 % intonasi suara, 55% Bahasa tubuh (gesture)
- Intensity of eye contact : Mata adalah jendela dunia, Tatap dengan lembut, tebuka dan jujur
- I’m responsible for my communication result : Perhatikan responnya dari waktu ke waktu
- Seseorang dengan Flexibelitas akan mampu mengontrol diri nya sendiri
- Tidak ada kegagalan, hanya umpan balik yang kurang tepat. Maju terus, ambil resiko, evaluasi, selaraskan, gunakan pengalaman terdahulu dan pengetahuan untuk meraih kesukseskan
- Setiap pengalaman memiliki struktur tersendiri, Jika kita mengubah strukturnya, maka dengan sendiri nya pengalaman kita juga akan berubah. Disini kita harus belajar menghilangkan rasa takut tanpa alasan
- Semua orang memiliki cukup sumber guna berubah ke arah yang lebih positive. Sumber-sumber tersebut berada di pengalaman masa lalu masing-masing. Kembalilah ke momen bahagia dan rasakan kembali. Buat diri kita lebih percaya diri, gunakan sebagai relaksasi, cinta dan komunikasi yang lebih baik.
- Manusia mempunyai dua tingkatan komunikasi : sadar dan bawah sadar. Mulailah dengan pikiran sadar. Penting untuk memilah kumpulan pernyataan yang kita katakana kepada diri kita dan orang lain. Hapus perkataan dan pikiran negative, gantikan dengan pesan baru yang positive.
- Tubuh dan pikiran saling mempengaruhi. Wajah dan tubuh mencerminkan pemikiran kita
- Jika sesuatu mungkin bagi seseorang, maka hal itu juga mungkin bagi yang lain. Jaga terus semangat tinggi, semngat belajar dan tunjukan komitmen untuk tetap berusaha komunikasi produktif dalam situasi apa pun
- Saya bertanggung jawab tetang pemikiran saya. Oleh karena itu, saya juga bertanggung jawab akan hasil yang saya peroleh. Menyalahkan oranglain atas kejadian buruk dalam hidup kita memang sangat lah mudah. Namun itu akan me,buat energy dan hasil yang rendah.
Komponen otak manusia terdiri
dari Nalar/pikiran dan Emosi. Ketika Nalar panjang, maka Emosi menjadi kecil.
Ketika Nalar pendek, maka emosi menjadi tinggi. Orang dewasa lebih cebderung ke
NALAR. Sedangkan anak-anak atau orangtua lebih cenderung ke emosi. Maka, bila
kita masih termasuk kategori ‘dewasa’ (bukan anak-anak dan belum terlalu tua).
Maka, selayaknya kita lebih mengedepankan nalar daripada emosi, dasarkan pada
fakta atau data untuk problem solving.
Jika emosi melanda, jeda sejenak.
Redakan dulu agar nalar kita bisa berfungsi kembali dengan baik. Karena pada
saat emosi tinggi, tidak ada sesuatu yang di bagikan. Yang ada hanya suara yang
bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.
Sumber :
Elfiky, Ibrahim. 2006. Terapi
NLP (Neuro – Linguistik – Programme) Membangun Komunikasi yang Komunikatif.
Jakarta : Kelompok Mizan
Tim Ibu Professional. 2018 . E-Book Komunikasi Produktif.
Noone, Mike. 2012 . NLP Trainer
Komentar
Posting Komentar