Memperkenalkan budaya literasi sejak dini pada Anak



Budaya literasi merupakan kemampuan membaca dan menulis. Literasi menjadi penting karena ini merupakan kemampuan awal yang harus dimiliki setiap individu untuk menjalani kehidupan di masa depan.  Dengan literasi yang diterapkan sejak dini akan sangat membantu terhadap kemampuan anak dalam keterampilan membaca. Seperti kita ketahui, membaca buku sangat baik untuk pengetahuan dan menambahah wawasan. Namun minat baca di Negara Indonesia sangat rendah. Hal ini diungkapkan kepala Perpustakaan Nasional Muh Syarif Bando di Kompas.com (29/8/2017) studi “Most Littered Nation In The World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara.  Indonesia nampaknya harus banyak belajar dari  Negara-negara maju yang memiliki tradisi membaca cukup tinggi seperti Jepang, Amerika, Jerman dan Negara lainnya dengan kebiasaan masyarakat membaca bukunya, telah berimbas pada begitu pesatnya peradabannya.

Sedangkan budaya membaca sendiri itu perlu di tingkatkan dan perlu di dukung penuh oleh keluarga pada khususnya dan oleh pemerintah pada umumnya. Karena tanpa dukungan keluarga dan pemerintah, Budaya literasi yang di gemparkan ini akan menjadi sangat klise dan hanya angan semata. Baiknya, budaya literasi ini di kenalkan sejak dini pada anak. Hal ini dikarenakan pada usia dini terjadi masa golden age, yaitu masa keemasan anak dimana pada masa itu anak mengalami suatu perkembangan yang sangat pesat dan masa golden age terjadi pada masa pra sekolah diusia anak 2-6 tahun yaitu usia dimana anak belum di perkenalkan dengan sekolah, jadi orangtua lah yang berperan aktif menjadi fasilitator gerakan literasi di rumah. Dan menjadikan literasi di rumah sebagai rutinitas harian.





Seperti kita ketahui, literasi berkaitan dengan budaya membaca. Karena membaca merupakan suatu cara untuk mendapatkan informasi yang di tulis. Karena budaya membaca juga sangat berkaitan dalam mencapai kesuksesan. Suka membaca tanpa sekolah masih berpeluang dalam mencapai kesuksesan, karena membaca membuat pola pikir menjadi luas dan tajam. Budaya membaca lebih dari sekedar bisa membaca. Namun juga mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital dan auditori. Sesuai dengan gaya belajar yang cocok untuk di terapkan di setiap individu. Oleh karena itu penulis merumuskan masalah “Bagaimana menggerakan Literasi di lingkungan keluarga?”. Selanjutnya untuk menjawab permasalahan diatas, maka penulis mengambil judul penelitian “Konsep Program Literasi Keluarga”

Apa itu Literasi ?
Literasi adalah seperangkat kemampuan membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehar-hari. Literasi tidak bisa dilepaskan dari Bahasa. Kita bisa disebut sebagai orang yang memiliki kemampuan literasi bila kita sudah mendapatkan kemampuan dasar dalam berbahasa yakni menyimak, berbicara, membaca serta menulis, sehingga dengan demikian kita juga tahu bahwa kemampuan menyimak, berbicara, membaca dan tulis adalah pintu pengembangan literasi selanjutnya. Hal yang paling penting dalam literasi adalah bebas buta aksara supaya bisa memahami semua konsep secara fungsional, sedangkan cara untuk mendapatkan kemampuan literasi ini adalah dengan melalui pendidikan di rumah, di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.

Apa Manfaat dari budaya literasi ?
Manfaat dari budaya literasi yaitu akan menambah wawasan dan informasi, menambah kosa kata, mengoptimalkan kerja otak, meningkatkan kemampuan interpersonal, mempertajm diri dalam menangkap makna dari suatu informasi yang sedang dibaca, mengembangkan kemampuan verbal, melatih kemampuan berfikir dan menganalisa, meningkatkan focus dan konsentrasi seseorang, dan melatih dalam hal menulis dan merangkai kata-kata yang bermakna. Dan tujuan dari literasi yaitu menumbuh kembangkan budi pekerti yang baik, menumbuh kembangkan budaya literasi di rumah, di sekolah maupun di masyarakat, dapat meningkatkan pengetahuan yang dimiliki dengan cara membaca berbagai informasi yang bermanfaat, dapat meningkatkan kepahaman seseorang dalam mengambil inti sari dari bacaan, mengisi waktu dengan literasi agar lebih berguna, memberikan penilaian kritis pada karya tulis seseorang, memperkuat nilai kepribadian dengan membaca dan menulis.

Apa dampak dari rendahnya kemampuan literasi ?
Dengan rendahnya kemampuan literasi atau minat baca, ini akan membuat kita mengalami masalah dalam memahami, meguasai, meneruskan, serta menggunakan ilmu pengetahuan serta teknologi untuk menghasilkan produk-produk berkualitas, minimnya wawasan dan keilmuan yang terbatas akan mengkerdilkan pola pikir sehingga mereka mudah dipengaruhi oleh berbagai doktrin dan pemahaman negative. Kurang membaca akan menyebabkan kreatifitas seseorang tak berkembang

Apa penyebab rendahnya kemampuan literasi ?
Lingkungan sekitar menjadi factor yang paling penting dalam kehidupan, karena secara tidak langsung lingkungan sekitarlah yang membentuk kebiasaan kita. Lingkungan keluarga misalnya, lingkungan ini adalah lingkungan paling dekat dengan kita. Jika dilingkungan keluarga saja sudah tidak membudayakan membaca, atau bahkan membeli bukupun tidak diperbolehkan jika begitu benih-benih minat baca tidak akan tumbuh.

Apa Solusi untuk mengatasi masalah rendahnya budaya literasi?

Setiap keluarga adalah team. Setiap keluarga harus bekerja sama dalam menumbuhkan generasi cinta literasi. Karena lingkungan keluarga adalah lingkungan pertama yang dapat mewujudkan segala impian yang diharapkan. Semua anggota keluarga harus terlibat, tidak bisa hanya ayah saja, ibu saja atau anak saja. Semua harus berkesinambungan. Harus menjadi team yang solid dengan menjaga komunikasi yang baik, kekompakan dan komitmen untuk tetap konsisten mewujudkan keluarga literasi. Ada pun konsep program literasi keluarga yang bisa diterapkan, yaitu:




  1. Membuat kondisi rumah menjadi rumah baca yang santai dan nyaman. Tidak perlu membeli semua jenis buku yang ada. Cukup beli buku sesuai minat para anggota keluarga. Untuk anak dibawah 6 tahun bisa diberikan buku berbahan boardbook disertai dengan warna-warna mencolok yang porsi isi bukunya lebih banyak gambar dibandingkan kalimat. Pilih buku dengan jarak huruf yang tidak terlalu dekat karena pada saat orangtua membacakan buku, secara tidak langsung anak akan melihat gambar dan kata per kata yang berada pada buku tersebut. Untuk anak usia 7 tahun sampai remaja bisa di sediakan buku ensiklopedi yang bisa menambah wawasan anak, bahkan menambah wawasan seluruh anggota keluarga
  2. Buat jadwal one story one day. Yaitu program membacakan cerita pada anak minimal 1 cerita setiap hari nya. Bisa saat santai jam siang, sore atau pun malam sebelum tidur. Orangtua secara bergantian membacakan cerita pada anak atau jika anak sudah bisa membaca, orangtua bisa membahas bersama tentang intisari dari buku atau cerita yang telah dibaca. Selain akan menambah wawasan, ini akan menumbuhkan kedekatan antara orangtua dan anak. Tercipta ikatan batin antar anggota keluarga, sehingga hubungan menjadi semakin indah dan harmonis
  3. Buat pohon literasi. Buatlah gambar pohon dengan dahan tetapi tanpa daun di kertas karton berukuran besar. Lalu tempel di dinding yang bisa dilihat oleh seluruh anggota keluarga. Tentukan warna daun yang berbeda pada setiap anggota keluarga (misal : Ayah daun hijau, Ibu daun kuning, Kakak daun merah, Adik daun oranye) tulislah di daun, setiap judul cerita yang telah dibaca. Lalu tempel kan daun tersebut di dahan pohon yang telah ditentukan. Setiap bulan di evaluasi, daun manakah yang paling rimbun dan banyak warnanya ? Beri apresiasi pada pemilik daun terbanyak.
  4. Kenali gaya belajar setiap anggota keluarga. Karena setiap manusia pasti bisa belajar dengan baik, namun setiap manusia akan belajar dengan cara yang berbeda. Pelajari dan amati apakah anak kita termasuk anak auditory, visual atau kinestetik ? Cara belajar kakak dan adik bisa saja berbeda. Kakak lebih cenderung memahami saat membaca dengan full gambar (visual) atau adik lebih cenderung memahami saat buku dibacakan oleh orangtua (auditory) atau mungkin juga bisa memahami cerita saat berjalan bersama atau memasak bersama (kinestetik).
     


“Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ibu adalah sekolah. Jika engkau menyiapkan generasi ibu dengan baik, berarti engkau menyiapkan generasi yang berkarakter mulia”. Salah satu dari rendahnya kemampuan literasi adalah rendahnya kesadaran para orangtua, Ibu khususnya, akan pentingnya literasi. Para Ibu terlalu menyerahkan semua tugas seperti belajar membaca, menulis dan berhitung kepada pihak sekolah. Padahal pihak sekolah hanyalah membantu perkembangan kemampuan literasi. Buku-buku atau media yang ada di rumah pun sangat terbatas, buku hanya dapat dijumpai di perpustakaan atau toko buku. Saat anak berada pada masa golden age Ibu lebih banyak membelikan anak mainan dibandingkan buku bacaan. Ibu lebih banyak membiarkan anak menonton TV dibandingkan membacakan buku pada anak. Ibu lebih banyak mebiarkan anak bermain sendiri dibandingkan mengajak nya berkegiatan keterampilan hidup. Sudah saatnya para Ibu membuka wawasan akan pentingnya literasi bagi masa depan. Jika program keluarga literasi dijalankan oleh seluruh keluarga, bukan hal mustahil Indonesia akan lebih maju peradabannya. Tingkat kejahatan akan menurun dan lapangan pekerjaan bisa menjadi lebih banyak.



Dari masalah yang terjadi saat ini, peran Orangtua sangatlah penting dalam mewujudkan program literasi keluarga, Orangtua menjadi ujung tombak utama. Para Orangtua harus mengatahui gaya belajar yang cocok pada setiap anak atau anggota keluarga. Setelah mengetahui gaya belajar nya, orangtua akan lebih mudah mengajak anak menjalankan program literasi keluarga ini. Para orangtua harus menyisihkan waktu untuk mengajak anak dan anggota keluarga lainnya ke toko buku bersama. Karena saat memilih buku, kita bisa tahu minat dan bakat apakah yang dimiliki anak. Apa yang sedang disukai anak. Sehingga keluarga menjadi kompak dalam menjalan segala program yang telah di sepakati.





Komentar

Postingan Populer