Pendidikan fitrah seksualitas sejak dini

Pendidikan Fitrah Seksualitas Sejak Dini



WHAT

Definisi : Apa itu fitrah?

Fitrah adalah apa yang menjadi kejadian atau bawaan manusia sejak lahir. Pengertian fitrah secara sistematik berhubungan dengan hal penciptaan (bawaan) sesuatu sebagai bagian dari potensi yang dimiliki.

Penjabaran:
Fitrah Seksualitas
Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Pendidikan fitrah seksualitas tentu berbeda dengan pendidikan seks.

Tujuan pendidikan fitrah seksualitas ini adalah membuat anak mengetahui identitas seksualnya, anak mampu berperan sesuai dengan identitasnya dan membuat anak mampu melindungi dirinya dari kejahatan seksual.

Referensi nya : http://catatandyma.blogspot.com/2018/01/fitrah-seksualitas-dan-peran-orang-tua.html



WHY

Mengapa harus ada pendidikan fitrah seksualitas ?

Agar anak anak lelaki kita tumbuh menjadi lelaki dan ayah sejati, dan agar anak anak perempuan kita tumbuh menjadi perempuan dan ibu sejati.
Agar para propagandis homo seksualitas tidak lebih pandai menyimpangkan fitrah seksualitas anak anak kita daripada kepandaian kita menumbuhkan fitrah seksualitas anak anak kita. Agar ahli kebathilan gigit jari berputus asa, karena kita lebih ahli dan berdaya mendidik fitrah anak anak kita. (Harry Santosa)

Mengapa harus dikenalkan sejak  dini ?

Fitrah seksualitas penting untuk dibangkitkan sejak dini supaya :

1. Anak mengerti dan bisa memastikan identitas seksualnya, apakah dia itu laki-laki atau pun perempuan

2. Anak mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya sehingga mampu menempatkan dirinya sesuai peran seksualitasnya

3. Mengajarkan anak untuk melindungi dirinya dari kejahatan seksual

4. Anak memahami  batas-batas dalam berperilaku terhadap orang lain yang berbeda gender sehingga mengedepankan norma kesopanan.



WHO

Siapakah yang harus berperan mengenalkan pendidikan fitrah sejak dini?

ORANG TUA.
Sosok Ayah dan Ibu senantiasa harus hadir sepanjang masa mendidik anak-anak sejak lahir hingga Aqil Bhalig tujuannya agar fitrah seksualitas anak tumbuh secara baik dan sempurna.

Sedangkan untuk pendidikan berbasis fitrah, ada tahapan pendampingan yang berbeda-beda dan secara bergantian sesuai tahap usia sang anak.

Kedekatan yang paralel ini membantu anak secara imaji untuk membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alami mampu menempatkan diri sebagaimana fitrah mereka.

Lalu bagaimana bila sejak kecil sang anak sudah tidak memilik orangtua yang lengkap ?

Akan ada ketidak seimbangan karena  anak menjadi sulit menentukan fitrah seksualnya. Hal tersebut akan terlihat dari gender mana yang dominan di lingkungan ia berada. Perempuan akan cenderung tomboy apabila peran ibu tidak ada, ketika pengasuhan penuh di tangan Ayah atau Wali yang bergender laki-laki. Begitupun sebaliknya. Kecuali, apabila ada sosok pengganti Ibu atau Ayah yang bisa mengisi kekosongan fitrah tersebut sejak kecil.

Akibatnya apa?
Anak dapat terpapar ancaman penyimpangan dan atau bahkan kejahatan seksual dari ketidak tahuannya akan fitrah dirinya sejak kecil.



HOW

Bagaimana menerapkan pendidikan fitrah pendidikan seksual pada anak di usia dini ?

Materi ini disampaikan oleh Harry Santosa, pakar parenting berbasiskan fitrah. Ia menjelaskan, fitrah seksualitas ini perlu dirawat dengan kehadiran, kedekatan, kelekatan Ayah dan Ibu secara utuh dan seimbang sejak anak lahir sampai usia akil baligh (15 tahun).

“Ayah berperan memberikan Suplai Maskulinitas dan Ibu berperan memberikan Suplai Femininitas secara seimbang. Anak lelaki memerlukan 75% suplai maskulinitas dan 25% suplai feminitas. Anak perempuan memerlukan suplai femininitas 75% dan suplai maskulinitas 25%,”


WHEN

Kapan pendidikan fitrah seksualitas diterapkan

Penjabaran :
Pada tahap usia 0-2 tahun, anak lelaki maupun anak perempuan seyogyanya lebih didekatkan kepada Ibu karena masih dalam masa menyusui. “Menyusui adalah tahap awal penguatan semua konsepsi fitrah termasuk fitrah keimanan dan fitrah seksualitas,”

Sedangkan pada tahap usia 3 hingga 6 tahun merupakan tahap Penguatan Konsepsi Gender dengan imaji positif tentang gendernya masing masing. “Indikator tumbuhnya fitrah seksualitas di tahap ini adalah anak dengan jelas dan bangga menyebut gendernya di usia 3 tahun,”

Pada tahap usia 7 hingga 10 tahun ialah fase penyadaran Potensi Gender dengan beragam aktifitas yang relevan dengan gendernya. Anak lelaki yang telah ajeg konsep kelelakiannya pada usia 0-6 tahun, maka kini disadarkan potensi kelelakiannya langsung dari Ayah. Anak lelaki lebih didekatkan ke Ayah.

“Ayah mengajak anak lelakinya pada peran dan aktifitas kelelakian pada kehidupan dan sosialnya, termasuk menjelaskan mimpi basah, fungsi sperma dan mandi wajib. Begitupula anak perempuan lebih didekatkan ke Ibu untuk disadarkan peran keperempuanannya dalam kehidupan sosialnya. Indikator di tahap ini adalah anak lelaki kagum dan ingin seperti ayahnya, anak perempuan kagum dan ingin seperti ibunya,

Sedangkan pada usia 11 hingga 14 tahun adalah tahap Pengujian Eksistensi melalui ujian dalam kehidupan nyata. Anak lelaki yang telah sadar potensi kelelakiannya kini harus diuji dengan memahami mendalam lawan jenisnya langsung dari ibunya.

“Maka anak lelaki di tahap ini lebih didekatkan kepada ibunya agar memahami cara pandang perempuan dari kacamata perempuan (dalam hal ini ibunya). Anak perempuan juga sebaliknya, lebih didekatkan ke ayahnya agar memahami mendalam bagaimana cara pandang lelaki dari kacamata lelaki (dalam hal ini ayahnya),”

Hingga pada usia 15 tahun hingga lebih ialah tahap penyempurnaan fitrah seksualitas sehingga menjadi peran keayahbundaan. Masa ini, ia mengatakan, merupakan masa Aqil Baligh atau anak bukan lagi anak-anak, tetapi mitra bagi orangtuanya. Secara syariah anak telah Mukalaf atau mampu memikul beban syariah, termasuk kemampuan untuk menikah atau menjadi ayah sejati atau menjadi ibu sejati.



Catatan 1:
Anak anak yang kehilangan salah satu sosok orangtua baik karena meninggal atau karena perceraian, maka wajib segera diberikan sosok pengganti sampai mencapai aqilbaligh baik dari keluarga besar maupun komunitas/jamaah kaum Muslimin.

Catatan 2:
Fitrah Seksualitas ini tidak tumbuh berdiri sendiri harus pula diiringi tumbuhnya fitrah lainnya seperti fitrah keimanan, fitrah individualitas dan fitrah sosialitas sehingga agar juga tidak mudah ditularkan penyimpangan seksual oleh lingkungan.

Catatan 3:
LGBT jelas adalah penyimpangan fitrah seksualitas, bukan genetik tetapi karena salah pengasuhan atau tidak diagendakan dalam pendidikan atau penularan perilaku lingkungan.

source: https://ekoharsono.wordpress.com/2017/12/24/prinsip-dan-tahapan-mendidik-fitrah-seksualitas/amp/

Komentar

Postingan Populer